Korelasi antara Game dan Pendidikan untuk Perkembangan mental anak



Korelasi antara Game dan Pendidikan untuk Perkembangan mental anak - Pendidikan adalah salah satu faktor penting yang menentukan maju atau tidaknya suatu bangsa, selain dari pertumbuhan dan perkembangan ekonomi yang bisa dihtung secara angka. Sejatinya bangsa yang maju adalah bangsa yang memiliki kualitas pendidikan yang bagus untuk, ketika pendidikan serta sistemnya sudah bisa diterapkan dengan bagus disuatu negara makan aspek lain seperti ekonomi, politik, kesejahteraan masyarakat bahkan kesehatan akan mengikuti kearah yang lebih baik, bahkan jika pendidikannya memang baik, tingkat kemiskinanpun akan berkurang. Karena dengan pendidikan yang baik akan menimbulkan kesadaran masyarkat yang baik pula dalam segala bidang.
Salah satu contoh yang nyata ketika pendidikan mulai membaik diiringi dengan perkembangan teknologi yang pesat juga, baik dalam teknologi komunikasi maupun transportasi ataupun informasi. Salah satu kemajuan itu adalah berkembangnya teknologi gaming yang mana itu adalah program yang bisa berjalan di dalam perangkat berbasis komputer adalah program game atau program permainan. Kita dapat dengan mudah mendapatkan game untuk dijalankan pada komputer atau smartphone. Secara garis besar game terbagi kepada dua jenis, yang pertama adalah game offline dan yang kedua adalah game online. Game offline maksudnya adalah game yang bisa digunakan pada komputer atau smartphone tanpa harus terhubung ke internet. Hal tersebut dimungkinkan untuk dilakukan karena semua perintah dan data game sudah terpasang di dalam komputer. Sedangkan game online ini sifatnya terpusat pada suatu server. Sehingga untuk menjalankannya dibutuhkan akses ke server tersebut melalui jaringan internet (detik.com).
Idelanyap perkembangan dunia game ini harus bisa dimanfaatkan secara baik untuk menunjang pendidikan. Namun disi lain dunia pendidikan seolah-olah tidak mau tahu terhadap perkembangan ini. Bahkan menganggap game adalah penghambat sistem pendidikan yang diterapkan khususnya di negara Indonesia. Padahal game dapat digunakan untuk membantu edukasi bagi anak-anak.
Electronic Arts (EA) dan NESTA (National Endowment for Science, Technology and the Arts) Futurelabs mengumumkan hasil jajak pendapat MORI (Market & Opinion Research International) untuk proyek Teaching with Games. Menurut hasil survei, hampir 60 persen tenaga pengajar di Inggris sepakat menggunakan video game untuk mendukung pendidikan.Survei tersebut diadakan pada akhir November silam dengan mengambil sampel 1000 sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) di Inggris. Meski selama ini banyak ketakutan yang muncul dari efek negatif video game, survei tersebut justru menemukan hal lain. Para responden berpendapat mereka menemukan banyak hal positif yang bisa diperoleh dari video game. 59 persen responden mengaku akan mempertimbangkan penggunaan video game dalam pendidikan. Dari 59 persen tersebut, 53 persennya diantaranya mengatakan game interaktif akan mampu membantu memotivasi anak didiknya.
Dengan bermain game, 91 persen responden percaya anak-anak mereka dapat mengembangkan kemampuan motoriknya. Dan 60 persen diantaranya mengatakan gamer dapat mengembangkan kemampuan berpikir yang lebih baik serta mendapatkan pengetahuan yang lebih spesifik."Kami telah lama percaya, game komputer interaktif memiliki kemampuan untuk membantu tenaga pengajar dan anak didik. Teaching with Games menandai pentingnya kolaborasi sektor industri dan pendidikan untuk menunjukkan bagaimana game bisa membantu proses pembelajaran," ujar Calus Due, Manajer Pengembagan Pasar EA Eropa. Seperti dikutip detik.net dari Games industry Senin (16/1/2006), hampir sepertiga responden telah memakai game dalam pendidikan. Tetapi hampir dua pertiga responden menunjukkan rasa enggan, karena mereka merasa game dapat memicu anak-anak menjadi bersikap anti sosial serta memiliki pandangan sterotip. Kurangnya bukti nyata keuntungan menggunakan video game serta kurangnya sumber yang sesuai juga dinilai sebagai penghalang potensial penggunaan game di sekolah.
Proyek Teaching with Games ditujukan untuk memecahkan masalah ini serta masalah lain dari serangkaian penelitian dan praktek percobaan. Selain itu, proyek ini bertujuan untuk memaksimalkan kegunaan game "The Sims 2", "Rollercoaster Tycoon 3" serta "Knights of Honor".Menurut Profesor University of Bristol dan Pemimpin Futures Group Angela McFarlane, kita perlu mengetahui dimana, dan kapan waktu yang tepat untuk menggunakan game sebagai pendukung pendidikan.
Dunia internasional menunjukan bahwa game pada umumnya memiliki manfaat untuk sistem perkembangan anak dalam berfikir dan perkembangan kecerdasan anak, namun ini menjadi topik yang negatif ketika isu ini dilemparkan kepada publik dan sistem pendidikan di Indonesia. Sistem pendidikan indonesia yang terlalu terpaku kepada standarisasi pendidikan menganggap game adalah sebuah hambatan dalam perkembangan pendidikan anak. Sebenernya riset untuk hal ini sudah pernah dilakukan oleh beberapa ahli di Indonesia yang tidak bisa kita sebutkan secara terperinci, namun yang menjadi hal penting dalam wacana ini adalah bagaimana seharusnya para perangkat pendidikan yang ada di negeri ini harus mulai melirik game sebagai satu alternaif salah satu alat atau media bagi penunjang pendidikan di Indonesia.